Analis:
Yogi Satrio Bagus
Jeremy Mikael
Minggu lalu kami melakukan kunjungan langsung ke balai lelang JBA Indonesia, anak usaha dari Autopedia (ASLC IJ). Perusahaan ini mengoperasikan 15 cabang lelang dan 21 hub di seluruh Indonesia dengan model lelang hybrid: sekitar 80–90% bidder ikut online, sementara sisanya hadir langsung untuk mengecek unit secara fisik — menjaga transparansi dan membangun kepercayaan.
📦 Bisnis Komisi, Tanpa Beban Inventori
JBA memperoleh pendapatan dari komisi jual-beli kendaraan tanpa perlu menyimpan stok. Penjual dikenakan komisi 1–4% per unit, sementara sebagian pembeli datang langsung untuk mengecek unit — menjaga transparansi dan membangun kepercayaan. Lelang offline tetap dipertahankan untuk menjaga atmosfer dan kepercayaan konsumen lewat pengecekan unit langsung. Volume lelang 4W dapat mencapai 2.000–2.500 unit/bulan dengan tingkat penjualan sekitar 58%, menjadikan ini bisnis komisi murni dengan margin kotor >85%.
📉 Lemahnya Penjualan Mobil Baru = Peluang Supply Lelang
Penjualan mobil baru di Juni tercatat lemah, sementara NPF multifinance naik ke 2,84% di 1Q25 (vs 2,66% FY24). Hal ini membuka peluang peningkatan supply lelang dari kendaraan hasil reposesi mulai awal 2026 — karena proses penarikan unit biasanya memakan waktu 3–6 bulan.
📊 Kinerja 1Q25: Tumbuh, Tapi Margin Tergerus Ekspansi
ASLC mencatatkan pendapatan Rp222,5 miliar (+21,4% y-y) pada 1Q25, di mana segmen lelang menyumbang Rp66,6 miliar (+7,3% y-y). Meski margin kotor masih tinggi, net margin turun ke 6,2% (vs 9,2% di 1Q24) karena biaya ekspansi jaringan lelang.
💡 Kesimpulan:
Dengan struktur biaya yang ringan, basis end-user yang kuat (60% peserta), serta potensi lonjakan supply dari siklus repo, JBA berpotensi kuat menjadi pendorong pertumbuhan ASLC di 2026.
📎 Full PDF: BSASLC0725
Kalau kamu, siap masuk pasar mobil bekas atau masih nunggu lelang makin ramai? 🚙
✍️ Disclaimer: Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing investor.
Regards
Investment Specialist
