Analis
Jeremy Mikael
Minggu lalu, INCO mencatat pendapatan USD241,8 juta di 4Q24 (+5,2% QoQ; -17,9% YoY), membawa total FY24 ke USD950,4 juta (-22,9%), sesuai estimasi (100%/99%). Namun, lonjakan opex USD16,7 juta (+111,4% QoQ; +167,5% YoY) akibat biaya profesional & tenaga kerja proyek Bahodopi-Pomalaa menekan margin.
Nah kerugian ini juga bertambah dari adanya revaluasi opsi call terkait HPAL (4Q24: -USD10,2 juta vs 3Q24: +USD9,2 juta), laba bersih 4Q24 anjlok ke USD6,7 juta (-51,9% QoQ; -87,5% YoY), sehingga laba FY24 turun 78,9% YoY ke USD57,8 juta, meleset dari estimasi (84%/75%). Hmm kira-kira ditengah tekanan seperti ini, akankah INCO masih memiliki peluang yang menarik?🤔 Daripada penasaran, yuk simak narasi lengkapnya di bawah ini👇
⚒️ Kinerja Operasional: Produksi Stabil, Harga Nikel Masih Menekan
Produksi nikel matte 4Q24 18,5 ribu ton (+2,9% QoQ; -2,9% YoY), total FY24 mencapai 71,3 ribu ton (+0,8% YoY), sedikit di atas target 70,8 ribu ton. Penjualan nikel 4Q24 19,2 ribu ton (+8,2% QoQ; -7,1% YoY), dengan total FY24 72,6 ribu ton (+2,1% YoY). Namun, ASP 4Q24 turun ke USD12.597/ton (-2,7% QoQ; -11,5% YoY), menyeret ASP FY24 ke USD13.086/ton (-24,5% YoY). Meski biaya tunai turun ke USD9.374/ton (-6,6% YoY), dampaknya masih kalah oleh penurunan ASP.
✅ Rekomendasi: HOLD, TP Turun ke Rp3.400
Kami revisi model dengan memasukkan kontribusi penjualan bijih saprolite pada FY25/26E (6%/24%). Rekomendasi HOLD, dengan TP Rp3.400 berbasis 6,0x FY25E EV/EBITDA (-1,15x SD dari rata-rata 5 tahun). Metode valuasi bergeser dari SOTP ke EV/EBITDA karena volatilitas harga nikel dan distorsi dari keuntungan/kerugian non-operasional. Saham INCO saat ini diperdagangkan di 4,9x FY25E EV/EBITDA (-1,53x SD dari rata-rata 5 tahun). Risiko utama: fluktuasi harga nikel, kecepatan penjualan saprolite ore, dan volume penjualan nikel matte.
PDF: BSINCO0225
Disclaimer on:
Keputusan Membeli dan Menjual menjadi tanggung jawab pribadi
Regards
Investment Specialist
