Analis
Arvin Lienardi
Kemarin, kami mengadakan investor call bersama Bapak Bayu Wirawan, Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko PT Angkasa Pura Indonesia (Persero). Diskusi ini membahas prospek perusahaan pasca-merger pada September 2024 dan rencana strategis untuk mengangkat warisan budaya Indonesia di pintu masuk bandara. Berikut adalah beberapa poin penting:
Menjadi Operator Bandara Terbesar Kelima di Dunia
Pasca merger, PT Angkasa Pura Indonesia, kini dikenal sebagai Injourney Airports, mengelola 37 bandara di seluruh Indonesia, termasuk 16 bandara internasional. Dengan menangani 172 juta penumpang per tahun, 1,2 juta pergerakan pesawat, dan 1,3 miliar ton kargo, perusahaan ini mencakup 90% dari total penumpang udara di Indonesia. Sebagai bagian dari program restrukturisasi BUMN, merger ini menyatukan AP I (17 bandara di Indonesia Timur dan Tengah) dan AP II (20 bandara di Indonesia Barat, termasuk Soekarno-Hatta).
Inisiatif Strategis dan Fokus Operasional
Setelah merger, Angkasa Pura memprioritaskan sinergi operasi untuk meningkatkan efisiensi. Tidak ada rencana belanja modal besar yang signifikan setidaknya hingga 2030, dengan fokus pada optimalisasi neraca, termasuk refinancing obligasi. Sementara rencana IPO telah disebutkan oleh Kementerian BUMN, keputusan ini masih di luar kendali manajemen AP.
Modernisasi Bandara Utama Indonesia
Soekarno-Hatta Terminal 3 dan Bandara Ngurah Rai di Denpasar menjadi fokus revitalisasi. Perubahan meliputi area check-in, façade tenant, lounge, hingga peningkatan akses jalan. Langkah ini tidak hanya meningkatkan estetika tetapi juga mendapatkan apresiasi dari penumpang dan tenant, yang melaporkan kenaikan pendapatan pasca-renovasi. Upaya ini memperkuat citra Indonesia sebagai destinasi wisata utama.
PDF Full: InjourneyAirports
Disclaimer on:
Keputusan Membeli dan Menjual menjadi tanggung jawab pribadi
Regards
Investment Specialist
