Harga minyak menjadi kunci dalam prospek inflasi dan nilai tukar rupiah. Sejak pertemuan terakhir Bank Indonesia (BI) pada Agustus, harga minyak turun sekitar 10%, dengan WTI turun di bawah USD65 per barel. Penurunan ini menghilangkan potensi kenaikan harga BBM dan dapat memperbaiki dinamika pasokan-permintaan valas, yang berpotensi memperkuat rupiah. Dengan 30% permintaan dolar di dalam negeri berasal dari impor minyak, harga minyak yang lebih rendah, penguatan yen Jepang, serta arus modal rotasional antar negara berkembang menuju ASEAN, mendukung penguatan rupiah yang telah naik sekitar 7% secara YTD dan menjadi salah satu mata uang terbaik di Asia.
Indonesia juga telah mencatat deflasi selama empat bulan berturut-turut sejak Mei, didorong oleh penurunan tajam harga pangan. Deflasi ini memberikan ruang bagi BI untuk mempertimbangkan penurunan suku bunga, terutama karena inflasi berada di jalur untuk mencapai target BI tahun 2024 sebesar 1,5-3,5%. Risiko inflasi bahkan bisa semakin rendah jika harga BBM non-subsidi kembali disesuaikan akibat turunnya harga minyak. Sementara itu, pelemahan ekonomi di AS dan China mempengaruhi Indonesia, dengan PMI manufaktur jatuh di bawah 50 selama dua bulan berturut-turut, menandakan kontraksi akibat menurunnya permintaan eksternal.
Kendati bulan lalu Gubernur BI bersikap hawkish, ia kini menjadi pengambil kebijakan yang lebih bergantung pada data dan siap mengambil keputusan yang mengejutkan pasar, seperti pada siklus pemotongan suku bunga 2019-2021 dan kenaikan suku bunga 2022-2024. Lalu bagaimana dengan langkah strategi Kami? Kami merekomendasikan untuk memanfaatkan peluang ini dengan menambah posisi pada aset sensitif suku bunga, seperti obligasi pemerintah, saham perbankan, dan teknologi; BMRI dan GOTO tetap menjadi pilihan utama kami.
Full Report: https://dxtrade.bahanasekuritas.id/BSSTRATEGY170924
Analis:
Satria Sambijantoro
Disclaimer on:
Keputusan Membeli dan Menjual menjadi tanggung jawab pribadi
