Analis
Jeremy Mikael
Abdusshomad Cakra Buana
AADI baru saja merilis laporan keuangan FY24, debut pertamanya sejak spin-off dari ADRO. Hasilnya? Pendapatan turun -10,1% YoY ke USD5,32 miliar akibat anjloknya harga jual rata-rata (ASP) ke USD75/ton (-17% YoY). Padahal, volume penjualan naik 7,4% YoY ke 68,06 juta ton! Produksi dari semua tambang pun meningkat, dengan Adaro Indonesia (AI) mencapai 50,80 juta ton (+5% YoY), Balangan Coal 9,02 juta ton (+13% YoY), dan Mustika Indah Permai 6 juta ton (+44% YoY).
Laba Naik, Tapi Ada ‘Bonus’ One-Off! 💰✨
Meski laba operasional turun 18,8% YoY ke USD1,15 miliar akibat naiknya opex, laba bersih justru naik 5,9% YoY ke USD1,21 miliar. Rahasianya? AADI mencetak keuntungan sekali jalan (one-off gain) USD323 juta dari divestasi ADMR! Tapi kalau angka ini dikeluarkan, laba inti sebenarnya turun 21% YoY ke USD1,04 miliar—masih inline dengan estimasi.
Target FY25 Konservatif, Tapi Bisa Lebih Baik! 🎯🔍
Manajemen menargetkan penjualan batubara FY25 di 65-67 juta ton (-2% hingga -4% YoY) dengan rasio pengupasan lapisan tanah (strip ratio) tetap di 4,3x yang artinya, untuk setiap 4,3 ton tanah yang dikupas, hanya 1 ton batubara yang didapat. Belanja modal juga lebih rendah di USD250-300 juta (vs. FY24: USD370 juta). Meski terlihat konservatif, AADI punya rekam jejak melampaui target—seperti tahun lalu, saat realisasi penjualan mencapai 65,85 juta ton, jauh di atas proyeksi awal 61-62 juta ton.
BUY dengan TP IDR10.000, Valuasi di Harga Diskon! 🎟️📈
Sejak puncaknya di IDR9.800 (31 Januari), harga saham sudah terkoreksi 35%, menjadikannya peluang entry menarik di IDR6.375/share (3,9x FY25E P/E). Kami mempertahankan BUY dengan TP IDR10.000 (6,0x FY25E P/E), mengacu pada rata-rata historis sebelum spin-off. Namun, tetap waspada terhadap risiko volatilitas harga batubara, target penjualan yang meleset, atau kenaikan biaya produksi.🚦
Full pdf: BSAADI0325
Disclaimer on:
Buying and selling decisions are personal responsibility
Regards
Investment Specialist
