Analis:
Laras Nadira
Setelah awal tahun yang kuat, manajemen AMRT tetap percaya diri menatap FY25. Penjualan dan SSSG diperkirakan akan kembali normal setelah puncak di 1Q25, tapi masih sesuai target pertumbuhan penjualan +10% dan SSSG 4–6%. Di tengah tekanan daya beli, bantuan sosial pemerintah bisa jadi penopang tambahan.
🔹 Ekspansi Fokus ke Luar Jawa: Lebih Longgar, Lebih Menjanjikan
AMRT tetap jalankan rencana buka 1.000 toko tahun ini—fokus di luar Jawa. Beda dengan Indomaret yang padat di Jabodetabek, AMRT manfaatkan area dengan persaingan lebih rendah dan potensi leverage operasional lebih besar. Data terbaru bahkan tunjukkan penjualan harian beberapa toko Ex-Java mulai mendekati Jakarta.
🔹 Distribusi Jadi Kunci: Tambah DC, Opex Naik Sementara
Tambahan satu Pusat Distribusi (DC) baru di Jawa dan ekspansi DC lain tahun depan bisa dorong efisiensi jangka panjang, meskipun opex sempat naik selama 4–5 kuartal. Biaya ini diperkirakan akan normal kembali saat kapasitas DC tembus 70%.
🔹 Lawson Masih Merugi, Tapi Target Breakeven 3–4 Tahun
Setelah ambil alih 70% Lawson dari MIDI, AMRT masih perkirakan rugi IDR70 miliar di FY25. Tapi format mini Lawson dinilai cocok untuk kota besar dan bisa sinergi dengan jaringan distribusi AMRT. Beberapa toko akan ditutup sebagai bagian dari penyesuaian strategi.
🔹 Rekomendasi: BUY, TP Naik ke IDR2.900
Kami pertahankan rekomendasi BUY dengan target harga naik ke IDR2.900 (31.5x PE 2026E), meski proyeksi EPS FY26 kami turunkan tipis ke IDR91.
⚠️ Bagaimana dengan risiko?
Tentunya tetap ada dari pelemahan daya beli, SSSG yang melambat, dan tekanan biaya distribusi yang lebih tinggi dari perkiraan.
📄 PDF Full: BSAMRT0725
Kamu lebih sering belanja di Alfamart atau Lawson? Yuk komen! 🛒
📌 Disclaimer on:
Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan kamu.
Regards,
Investment Specialist
