Analis
Satria Sambijantoro
Evelyn Vidya Paramita
BBNI membukukan laba bersih sebesar Rp5,38 triliun di 1Q25, naik 1% y-y dan 4,4% q-q, sejalan dengan estimasi. Pendapatan bunga bersih tumbuh 4,7% y-y namun turun 10,9% q-q menjadi Rp9,8 triliun. Beban bunga naik 6,1% y-y dan 2,6% q-q, mendorong cost of fund (CoF) ke 2,75% (vs 2,65% di 4Q24). Net interest margin (NIM) turun menjadi 3,94%, lebih rendah dari target 4–4,2% untuk FY25, seiring penurunan yield pinjaman akibat ketatnya persaingan harga di pasar.
📈 Pertumbuhan Kredit Solid, LDR Lebih Konservatif
Kredit BBNI tumbuh kuat 10,1% y-y menjadi Rp765 triliun per Maret 2025, meski turun 1,3% q-q. Pertumbuhan ditopang segmen korporasi (+16% y-y) dan konsumer (+13% y-y) yang mendominasi 75% total kredit. Nah bagaimana dengan dana pihak ketiga? DPK BNI juga turut naik 5% y-y menjadi Rp819,6 triliun, didorong oleh pertumbuhan CASA +6,3% y-y. Loan to deposit ratio (LDR) pun membaik ke 93,1% (vs 96,1% di 4Q24) berkat pendekatan konservatif untuk menjaga likuiditas di tengah ketidakpastian global.
🌎 Tetap Tangguh di Tengah Risiko Makro, BUY dengan TP Rp5.825
Manajemen tetap berhati-hati terhadap perlambatan ekonomi China yang berpotensi berdampak pada Indonesia, meski eksposur dinilai manageable. Sekitar 21% dari loan BNI berdenominasi USD. Namun, risiko exposure tersebut terlindungi karena para debtor tersebut memperoleh pendapatan dalam USD, sehingga secara alami mereka memiliki lindung nilai (natural hedge) terhadap pergerakan nilai tukar. Selain itu, cadangan keamanan bank untuk hadapi risiko (CAR) terjaga 22% di atas target 18-19%. Dengan performa solid dan panduan FY25 yang tetap, kami mempertahankan rekomendasi BUY untuk BBNI dengan target harga 12 bulan Rp5.825.
⚠️Risiko utama: pelemahan makro, likuiditas yang makin ketat, dan penurunan kualitas aset.
Full pdf: BSBBNI0425
Disclaimer on:
Buying and selling decisions are personal responsibility
Regards
Investment Specialist
