Analis
Kevin Jonathan Panjaitan
Hingga YTD, saham PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) telah turun 30,3%, terutama akibat hasil operasional yang lemah dan arus keluar investor asing, yang menguasai 77% saham publiknya. Pada 9M24, pendapatan TLKM hanya tumbuh tipis 0,9% yoy, dipengaruhi oleh penurunan pendapatan SMS, fixed line, dan seluler (-27,0% yoy), serta stagnasi pendapatan data/internet (+1,8% yoy). Bagaimana detail lanjutanya? Yuk simak dibawah ini
Apa saja tekanan Telkom?
Penurunan ARPU dari IDR47,8k (9M23) menjadi IDR44,5k (9M24) menambah tekanan, diiringi peningkatan biaya karyawan (+12,7% yoy) terkait program pensiun dini, yang menyebabkan laba bersih menyusut ke IDR17,7 triliun (-9,4% yoy).
Kenaikan Harga Seluler Dorong Optimisme
Harga saham TLKM melonjak 7,3% setelah Telkomsel mengumumkan rencana kenaikan tarif seluler bertahap sebesar 5-10% mulai November. Penyesuaian harga ini bertujuan menjaga stabilitas pasar dan memitigasi dampak kenaikan PPN tahun depan, dalam pandangan kami. Telkomsel juga memastikan bahwa produk Telkomsel Lite hanya fokus memperluas pangsa pasar regional, tanpa memicu perang harga. Meski demikian, risiko kehilangan pangsa pasar tetap ada jika pesaing tidak menaikkan tarif mereka.
Rekomendasi HOLD dengan Target Harga IDR3,100
Kami menurunkan rekomendasi TLKM dari BUY ke HOLD, seraya menunggu respons pemain lain terhadap kenaikan harga Telkomsel. Target harga tetap di IDR3,100/saham berdasarkan model DCF (WACC 10,26%, pertumbuhan terminal 1,0%). Estimasi kami mencatat pertumbuhan pendapatan sebesar 2,9% di 2025, lebih rendah dari rata-rata industri. Risiko utama meliputi tekanan ARPU, daya beli yang lemah, dan kompetisi ketat, sementara potensi peningkatan berasal dari penyesuaian tarif pesaing dan perbaikan ekonomi makro.
PDF Full: BSTLKM1124
Disclaimer on:
Keputusan Membeli dan Menjual menjadi tanggung jawab pribadi
Regards
Investment Specialist
