Analis
Purbiantoro Lintang, Satria Sambijantoro
Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan di 5,75% pada pertemuan Maret untuk menjaga stabilitas di tengah volatilitas pasar. Rupiah melemah ke 16.533/USD, terendah bulan ini, akibat ketidakpastian eksternal dan arus modal keluar. Keputusan ini juga bertujuan mencegah tekanan lebih lanjut pada pasar obligasi dan Rupiah setelah IHSG anjlok hampir 7% sehari sebelumnya.
📊 Arus Modal: Saham Tertekan, Obligasi Dilirik!
Investor asing menarik USD0,46 miliar dari pasar saham, sementara obligasi pemerintah dan SRBI menarik inflow USD0,2 miliar & USD0,1 miliar. Pergeseran sentimen global membuat investor lebih memilih aset safe haven seperti emas, yang terus mencetak rekor baru.
💵 Rupiah Terancam: Tekanan Perdagangan & Musim Dividen!
Neraca dagang Februari surplus USD3,1 miliar, didorong ekspor CPO ke India. Namun, pembatalan pesanan 70.000 ton CPO oleh India dan lemahnya permintaan batu bara dari China & Jepang bisa mengancam surplus ke depan. Ditambah, permintaan USD akan naik pada April-Mei saat investor asing merepatriasi dividen, meningkatkan volatilitas Rupiah.
⚠️ Rate Cut? Masih Lama!
The Fed masih “wait-and-see” dengan proyeksi hanya 1 kali pemangkasan suku bunga di 2H25, memperkuat skenario “higher for longer”. Dengan tekanan eksternal dan domestik, peluang BI memangkas suku bunga baru terbuka setelah musim dividen, bergantung pada pemulihan permintaan komoditas. 🚀
PDF Full:BSMACRO2003
Disclaimer on:
Keputusan Membeli dan Menjual menjadi tanggung jawab pribadi
Regards
Investment Specialist
