Bank Mandiri (BMRI IJ) Tight Liquidity Menekan Profitabilitas

Analis
Satria Sambijantoro
Evelyn Vidya Paramita

BMRI melapor laba Rp13,2 triliun di 1Q25 (+3,9% yoy, -4,1% qoq), hal ini masih sesuai proyeksi. Tapi tekanan makin terasa dengan NIM yang turun ke 4,8% akibat naiknya beban bunga (CoF 2,38%) & yield pinjaman yang ikut turun. Pendapatan bunga masih naik +5,5% yoy, tapi beban bunga melesat +24,4% yoy. 

PPOP solid bagaimana dengan kinerja Kinerja Kredit Macet (NPL)?🤔
📉 Laba sebelum provisi (PPOP) tetap solid di Rp22 triliun, naik +3,8% yoy. Apa itu PPOP? PPOP sendiri ialah indikator kekuatan operasional bank sebelum dikurangi biaya pencadangan kredit macet. Artinya, Bank Mandiri tetap efisien dari sisi operasional, didukung fee digital, treasury, dan kontribusi anak usaha. Namun, biaya pencadangan (provisi) melonjak +62,6% qoq, seiring kehati-hatian menghadapi potensi risiko kredit. Kabar baiknya NPL Mandiri juga tetap terjaga rendah (1,17%) & CoC masih aman di 0,88%.

📌 Kredit tumbuh pesat +16,5% yoy, meski flat secara kuartalan. 
Mandiri mulai lebih konservatif, dorong pertumbuhan berbasis DPK. LDR pun turun ke 92,5%, menunjukkan fokus pada likuiditas jangka panjang. 📲 Bagaimana strategi selanjutnya? Dorong low-cost funding lewat ekosistem digital (Livin, Kopra), sambil tetap konservatif hadapi tekanan global. Bagaimana dengan target NIM pada tahun ini masih 5,0–5,2%, akankah tercapat? Ya tentunya masih bisa tercapai!✨ asalkan likuiditas membaik di semester dua 2025 ini. 🟢Rekomendasi: BUY  TP 12 bulan: Rp6.700 (Valuasi: 2,0x P/B 2025E, +1SD 5-year average).

⚠️ Resiko: tekanan makro & likuiditas ketat

PDF Full: BSBMRI0425

Disclaimer on:
Keputusan Membeli dan Menjual menjadi tanggung jawab pribadi

Regards
Investment Specialist

Tags:

Related Insights