Saham-saham dari sektor *old economy* seperti BBNI, ASII, dan INDF kembali menjadi sorotan menjelang akhir tahun. Saham-saham ini menunjukkan performa solid dalam berbagai indeks acuan seperti LQ45 dan HIHGDIV20, yang sering kali memiliki korelasi kuat dengan fenomena *window dressing*—kondisi di mana perusahaan berupaya mempercantik laporan keuangan menjelang penutupan tahun fiskal. Stabilitas kebijakan moneter, dengan suku bunga BI yang tetap berada di level 6% pada Oktober 2024, serta inflasi yang terkendali pada 2,5% ± 1%, juga memberikan optimisme tambahan, terutama ditambah arus investasi langsung asing (FDI) yang semakin meningkat. Semua faktor ini memperkuat potensi pergerakan saham *old economy* menjelang periode *window dressing*. Selain dari faktor makro, analisis SEAG dan ringkasan broker menunjukkan peluang akumulasi yang kuat pada saham-saham ini.
Seasonal Trends
Berdasarkan analisis SEAG pada rentang waktu Desember (2014-2023), ketiga saham *old economy* menunjukkan potensi kuat untuk mengalami *window dressing*. Saham BBNI mencatatkan potensi kenaikan tertinggi dengan peluang yang lebih stabil, disusul oleh ASII dan INDF yang juga menunjukkan peluang positif, meski disertai risiko penurunan yang lebih besar. Berikut adalah rincian lebih lanjut:
- BBNI (Bank Negara Indonesia):** BBNI mencatat rata-rata perubahan harga saham sebesar 2,77% di bulan Desember, dengan probabilitas kenaikan sebesar 70% dan risiko penurunan 30%. Hal ini mencerminkan prospek positif dan fundamental yang kuat.
- ASII (Astra International):** Dalam analisis SEAG, Astra menunjukkan rata-rata perubahan harga sebesar 0,97%, dengan probabilitas kenaikan 60% dan penurunan 40%, menjadikannya saham yang relatif stabil.
- INDF (Indofood):** Indofood memiliki rata-rata perubahan harga sebesar 1,52%, dengan probabilitas kenaikan 60%, memberikan peluang untuk *rebound* di akhir tahun.
Aktivitas Broker Summary
Berdasarkan data broker summary pada Oktober 2024, ketiga saham old economy ini menunjukkan kecenderungan akumulasi. Saham perbankan, khususnya BBNI, mencatat akumulasi terbesar. Berikut adalah rinciannya:
- INDF (Indofood):** Indofood mencatat akumulasi dengan volume bersih sebesar 481.784 saham, dan total nilai transaksi mencapai Rp349,2 miliar. Harga rata-rata per saham berada di level Rp7.249, yang menunjukkan potensi kenaikan dengan minat beli yang kuat.
- BBNI (Bank Negara Indonesia):** BNI mencatat akumulasi kuat dengan volume bersih sebesar 1,722 juta saham, menghasilkan transaksi sebesar Rp950,3 miliar. Harga rata-rata per saham tercatat pada level menarik, yakni Rp5.516.
- ASII (Astra International):** Astra menunjukkan minat beli yang tinggi dengan akumulasi volume bersih sebesar 1,635 juta saham, dan nilai transaksi mencapai Rp834,9 miliar. Rata-rata harga saham berada di Rp5.104, yang mencerminkan minat investor yang tinggi.
Dengan berbagai faktor yang mendukung serta memasuki periode window dressing, saham-saham old economy tampaknya akan menarik perhatian lebih besar dari para investor di penghujung tahun ini.
DISCLAIMER ON
Keputusan Berinvestasi merupakan Tanggung Jawab Pribadi
Ditulis oleh
James Evan Tumbuan
Head of Investment Specialist
Bahana Sekuritas
