Analis:
Purbiantoro Lintang
Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk menahan suku bunga acuan di level 5,50% pada Rapat Dewan Gubernur Juni, setelah sebelumnya menurunkan 25 bps di bulan Mei. Gubernur Perry Warjiyo menyampaikan bahwa keputusan ini bersifat “pre-emptive dan forward-looking”, diambil untuk merespons risiko eksternal yang meningkat meskipun rupiah sempat menguat ke Rp16.250/US$.
Untuk mendukung konsumsi domestik, BI juga memperpanjang insentif makroprudensial seperti biaya transfer SKNBI rendah, pelonggaran pembayaran minimum kartu kredit, serta batasan denda keterlambatan. Langkah ini menunjukkan komitmen BI dalam menjaga daya beli masyarakat di tengah tekanan global.
🔹 Risiko global tetap tinggi: konflik Timur Tengah & ketidakpastian tarif AS 🛢️📦
Ketegangan Israel–Iran dan potensi gangguan di Selat Hormuz telah mendorong harga minyak naik ke USD75/barel, meningkatkan risiko inflasi global. Sementara itu, arah kebijakan tarif AS pasca 8 Juli masih belum jelas, terutama terhadap negara-negara di luar China yang belum menyepakati kesepakatan baru.
🔹 Peluang pemangkasan suku bunga tetap terbuka, namun tertunda ⏳
Kami tetap melihat ruang bagi BI untuk melanjutkan pelonggaran moneter, namun waktu pelaksanaannya kemungkinan bergeser ke September. Stabilitas rupiah dan perkembangan geopolitik global akan menjadi pertimbangan utama.
📌 Kesimpulan:
Dengan tekanan harga yang masih terkendali dan pertumbuhan ekonomi dalam kisaran target 4,6–5,4%, BI menilai perlunya dukungan lanjutan. Namun, dinamika eksternal yang belum kondusif membuat otoritas moneter memilih untuk bersabar sebelum kembali melanjutkan siklus easing.
PDF Full: BSMACRO190625
Disclaimer on:
Keputusan membeli dan menjual adalah tanggung jawab masing-masing investor
Regards,
Investment Specialist
