Update Makro Indonesia 📉 Defisit APBN di Awal Tahun: Tekanan Fiskal dari Pajak!

Satria Sambijantoro, Lintang

Keuangan negara memulai 2025 dengan kejutan kurang menyenangkan. Setelah sempat tertunda, Kemenkeu akhirnya merilis realisasi APBN Januari, mencatat defisit IDR 23,4 triliun (0,1% PDB)—defisit Januari pertama dalam empat tahun terakhir! 😲 Padahal, biasanya awal tahun APBN surplus karena belanja negara masih rendah.

📌 Pendapatan negara jadi sorotan utama!
Total penerimaan anjlok 28,3% YoY menjadi IDR 157,3 triliun, dengan pajak ambruk 34,5% YoY. 📉 Kabar baiknya, ini bukan tren permanen, melainkan dampak one-off dari transisi ke Core Tax Administration System (CTAS) yang membuat realisasi pajak tertunda ke bulan berikutnya.

💰 Belanja negara mulai dikendalikan!
Pemerintah tampaknya mengetatkan ikat pinggang dengan menarik rem pengeluaran. Total belanja turun 1,8% YoY ke IDR 180,8 triliun. Yang menarik, program Makan Bergizi Gratis (MBG) tetap berjalan, tapi dibiayai dari realokasi belanja kementerian yang justru terpangkas 10,7% YoY ke IDR 24,4 triliun.

🤔 Penghematan atau sekadar alokasi ulang?
Banyak yang menyebut langkah ini sebagai “penghematan” atau “pemotongan anggaran” 🔪, tapi faktanya dana yang diselamatkan hanya dialihkan ke program prioritas Presiden Prabowo Subianto. Dengan dinamika fiskal seperti ini, defisit APBN diprediksi bisa melebar ke 2,6-2,8% PDB di akhir tahun. 🚨

Disclaimer on:
Keputusan Membeli dan Menjual menjadi tanggung jawab pribadi

Regards
Investment Specialist

Tags:

Related Insights